Saturday, April 19, 2014

Inilah Penyakit Mematikan Nomor 2 di Dunia. Sepertiga Penduduk Bumi Mengidapnya.

Waktu saya SD, kelas 4 saat itu, guru saya memberi tahu saya dan siswa lain di kelas tentang berbagai macam penyakit beserta informasi penunjangnya. Nama penyakit, penyebab, dan ciri – ciri seseorang yang menderita penyakit tersebut.

Setelah dikasi tahu oleh guru saya, saya baru menyadarai kalau selama itu ternyata saya salah. Saya mengira penyakit beri – beri disebabkan oleh hewan biri – biri. Dan TBC adalah singkatan dari penyakit Tetanus. Padahal TBC singkatan dari Tuberculosis (jauh banget!). *ketawa getir*

Dan secara kebetulan ada sodara dekat saya yang deket – deket ini masuk rumah sakit karena menderita TB. Saya pun makin penasaran dengan penyakit ini dan mulai mencari tahu.

Apa yang saya dapat? Ternyata TB tidak secemen dugaan saya sebelumnya. TB penyakit yang mengerikan. Kalian tahu kenapa? TB adalah penyakit penyebab kematian terbanyak ketiga setelah HIV di urutan kedua. Penyakit paling mematikan masih dipegang oleh ‘patah hati’. (kalimat yang terakhir saya bercanda)

“Pada tahun 2013 sebanyak 46 per 100 ribu penduduk Indonesia meninggal karena TB. Kasus baru TB mencapai 185 per 100 ribu penduduk”, kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Tjandra Yoga Aditama, dalam Simposium Nasional dan Seminar Awam TB Bisolvon dalam rangka Hari TBSedunia 2014, Sabtu (29/3/2014).

Sepertiga penduduk dunia sudah tertular TB dan setiap jamnya TB diperkirakan membunuh 175 orang. Jumlah penderita TB yang terdeteksi di Indonesia menduduki peringkat keempat di dunia setelah Cina, India, dan Afrika Selatan.

Mycobacterium tuberculosis
Para ilmuwan dunia sudah menemukan bahwa TB telah membunuh manusia sejak tahun 600 sebelum Masehi. Mycobacterium tuberculosis adalah nama bakteri penyebab TB. Bakteri TB menular melalui udara lewat partikel air pada batuk, bersin, dan meludah. Bahkan dari cairan yang keluar saat bicara pun kuman TB atau bacilli mampu menular. Seseorang sudah bisa tertular hanya dengan menghirup sebagian kecil kuman TB. Penderita TB mampu menularkan sekurang – kurangnya kepada 10 – 15 orang.

Bakteri TB cepat menular di lingkungan dengan sumber udara terbatas, misalnya ruangan berpendingin udara yang tertutup rapat. Selain rumah yang kotor dan padat penduduk, rumah dengan jumlah penghuni yang banyak juga memudahkan penyebaran bakteri TB. Rokok juga berperan dalam penularan TB. Rokok menurunkan daya tahan tubuh sehingga perokok aktif maupun pasif lebih rentan tertular TB.

sumber: wikipedia

sumber: SC

Mycobacterium tuberculosis mampu berkerja sama dengan virus / bakteri lain. Kasus yang sering terjadi adalah kolaborasi antara TB dengan HIV. Saat ini dari jumlah keseluruhan kasus TB, tiga persen di antaranya mengidap HIV.

“Ketika mengunjungi  Papua, dari 20 pasien TB, sebanyak 5 orang diantaranya terinfeksi HIV”, kata Wakil Menteri Kesehatan Prof.Ali Gufron Mukti, dalam acara Kick Off Forum Stop TB Parternship Indonesia, di Jakarta (30/5/13).
               
Tidak hanya partai, penyakit pun berkoalisi. Bisa dibayangin kalau kayak gini, dua penyakit paling mematikan di dunia bersatu.

Bakteri TB juga mampu menjadi kebal obat jika penderitanya tidak melakukan pengobatan secara konsisten selama minimal 6 bulan.

Ketua Forum Stop TB, Arifin Panigoro, dalam acara yang sama mengatakan bahwa penanganan TB yang benar adalah dengan pemberian obat secara teratur selama 6 bulan tanpa berhenti. Masalahnya, baru sekian hari menjalani pengobatan pasien langsung berhenti minum obat hanya karena merasa enakan. Disinilah pentingnya kehadiaran PMO, yaitu Pengawas Peminum Obat. Bisa jadi dari anggota keluarga atau orang terdekat dari pasien tersebut. PMO pun harus diberikan informasi yang cukup tentang TB agar mampu melaksanakan perannya dengan optimal.

Kepala Sub Direktorat Tuberkulosis, Ditjen PP & PL Kemenkes, drg Dyah Erti Mustikawati, MPH, menambahkan, “seseorang terinfeksi kuman TB belum tentu menjadi sakit. Kuman TB dapat menjadi tidak aktif (dormant) selama bertahun – tahun untuk membentuk dinding sel dalam bentuk lapisan tebal lilin untuk menjadi penyakit TB yang lebih besar dan muncul saat kondisi seseorang sedang lemah (misalnya muncul disaat seseorang juga terserang HIV, red).”

Gejala TB
Penyakit TB akan mematikan jika tidak mendapat pengobatan atau terlambat ditangani. JIka ada yang batuk lebih dari dua minggu, jangan anggap remeh. Karena itu bisa jadi gejala awal TB.

Gejala TByang umum lainnya adalah:
- Dahak bercampur darah/ batuk darah
- Sesak napas
- Demam / menggigil lebih dari sebulan
- Penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan

“Paling mudah untuk menemukan seseorang terjangkit TB ketika ia berkeringat di malam hari tanpa alasan yang jelas. Jika Anda lemah, tidak berhenti batuk, nyeri pada dada, dan berkeringat di malam hari, maka segeralah periksa”, ujar dr. Arifin Nawas Sp, dokter ahli di departemen klinis TB.

Layanan Kesehatan untuk TB
Penderita penyakit TB lebih banyak berada pada retang usia 15-55 tahun. Sangat disayangkan jika pada usia produktif tersebut seseorang tidak bisa diselamatkan hanya karena kurangnya penanganan.

Tenaga medis khusus penanganan TB sudah tersedia di Indonesia, namun kurangnya sosialisasi tentang TB (termasuk kepada saya) membuat penanganan kasus TB sangat lambat, bahkan tidak tersentuh oleh layanan kesehatan.

Padahal saat ini sudah ada 16 RS rujukan di 15 provinsi. Di 15 provinsi itu juga sudah tersedia alat pemeriksaan cepat TB Genexpert. Alat alat seharga 90 ribu USD ini mampu menganalisa kasus TB yang sebelumnya hasilnya baru bisa didapatkan selama 4 bulan, sekarang menjadi 2 jam saja.


Layanan untuk pasien TB lainnya juga sudah tersedia di seluruh Indonesia seperti 6 RS sub rujukan, 676 fasyankes satelit, 8 lab tersertifikasi, dan 2 hain test. Salah satu lab rujukan  yang telah tersertifikasi internasional adalah Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya, Jalan Karangmenjangan Surabaya. Laboratorium instrument diagnostik yang akurat dan standar medis kelas dunia itu adalah buah kerjasama pemerintah dengan US Agency for International Development (USAID) dan Becton, Dickinson and Company (BD), sebuah perusahaan medis internasional terkemuka. Jadi sebetulnya fasilitas kesehatan untuk TB di Indonesia sudah cukup memadai.


Data kementerian kesehatan menyebutkan tiap tahun ada 450 kasus baru. Jumlah ini akan terus bertambah jika kita sebagai masyarakat tidak ikut turun tangan dan memilih menutup mata dan telinga.

Makanya kita sebagai bagian dari masyarakat bisa menyelamatkan lingkungan sekitar kita dari penyakit mematikan ini dengan selalu menjaga kebersihan dan memperbanyak akses udara sebagai langkah pencegahan TB. Tentu tidak ada yang mau dirinya atau orang – orang terdekat meninggal oleh penyakit ini, bukan?

(Kalau saya sendiri sih lebih milih tularkan saja penyakit ini ke koruptor, terus jangan kasi perawatan yang memadai, biar mereka jera :p)

Masih ada kesempatan untuk berjuang dan berusaha memerangi TB. Jika ada saudara yang memperlihatkan gejala TB, segera laporkan. Ingat gejala umum TB: batuk selama 2 minggu. Jika ada yang mengalami seperti itu, segera periksakan. Jika tidak ditangani secara benar, TB akan menjadi kebal obat, lalu menjadi kasus TB yang lebih besar di kemudian hari saat kondisi seseorang melemah. Memang terkesan berlebihan, tapi daripada terlambat akhirnya kelewat alias mati atau menular ke orang yang lebih banyak, pilih mana?

FYI, obat TB di puskesmas adalah GRATIS! Jadi, masih ada alasan untuk tidak periksakan diri sejak dini? ;)


1 comment:

  1. TB memang serem ya. Semoga obat gratis ini bisa menyembuhkan semua penderita TB hingga sembuh total....

    ReplyDelete